Bait yang Tak Terekam
Bab 1: Rekaman yang Pincang
Suara detak jam dinding di ruang tengah selalu terdengar jauh lebih nyaring setiap kali aku menginjakkan kaki di rumah ini.
Dua tahun aku memilih membusuk di kamar kos pinggiran kampus, sengaja jarang pulang, hanya untuk menyadari bahwa tidak ada satu hal pun yang bergeser dari tempatnya. Aroma teh chamomile yang lembut masih mengambang di udara, bercampur dengan debu piringan hitam tua yang menumpuk di sudut ruangan. Piring porselen yang retak di atas meja makan seperti dulu.
Rumah ini terjebak di masa lalu.
Pemiliknya pun begitu.
Di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman samping, lelaki itu duduk membelakangiku.
Kaizen Elion Ukiyo.
Ayahku.
Punggungnya tampak sedikit lebih membungkuk dari terakhir kali aku melihatnya. Sepasang roda dari kursi kerjanya mengilap samar tertimpa cahaya sore yang temaram. Ia tidak bergerak, hanya menatap kosong ke arah deretan tanaman anyelir putih di luar yang tampak layu karena kehilangan perawatnya belasan tahun lalu.
"Aku pulang," kataku, memecah keheningan yang menyesakkan.
Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
Bahu Kaizen sedikit menegang. Ia memutar kursi rodanya perlahan. Saat wajahnya menghadapku, seulas senyum tipis terukir di bibir pucatnya. Senyum yang dipaksakan agar terlihat hangat.
Mata sayunya menatapku lamat-lamat, seolah sedang memastikan bahwa gadis yang berdiri di ambang pintu ini benar-benar putrinya yang egois.
"Kau kurusan, Raya," gumamnya suara parau. "Kamar atas sudah Ayah bersihkan sejak kemarin. Sepraimu juga sudah diganti. Duduklah dulu, Ayah buatkan teh hangat."
"Tidak perlu.”
Jawabanku yang singkat langsung menghentikan gerakan tangannya.
Aku menarik kursi di hadapannya hingga menimbulkan derit kasar. Lalu meletakkan alat perekam suara digital di atas meja makan.
Kaizen menatap benda itu beberapa saat sebelum kembali menatapku.
"Untuk tugas akhir kuliah," ujarku. "Profil biografi tokoh industri kreatif lokal. Dosen pembimbingku bilang rekam jejakmu sebagai produser musik independen di era tahun 2000-an cukup menarik untuk dijadikan bahan penelitian."
Kaizen mengembuskan napas panjang.
Ia meraih cangkir teh chamomile yang sudah mulai dingin dan menyesapnya secara perlahan, seolah minuman itu mampu meredakan kecanggungan yang membentang di antara kami.
"Biografi?" Ia terkekeh pelan. "Kau yakin tidak ingin menulis tentang musisi lain saja, Hiraya? Hidup Ayah sudah lama mati dan membosankan."
"Aku tidak butuh drama hidupmu saat ini, Ayah."
Nada suaraku terdengar lebih tajam daripada yang kuinginkan.
"Aku cuma butuh data untuk kelulusanku. Dan aku ingin memulai wawancara ini dari bagian yang paling tidak penting di hidupmu.”
Aku menatapnya lurus.
“Tentang bagaimana kau bertemu dengan perempuan yang meninggalkan kita itu.”
Hening.
“Luminara."
Tangan Kaizen yang sedang memegang cangkir mendadak diam.
Jemarinya mencengkeram gagang cangkir sedikit lebih erat. Otot di rahangnya menegang. Ada luka lama yang seolah dipaksa terbuka kembali oleh satu nama yang baru saja kuucapkan.
Namun hanya sesaat.
Tiga detik kemudian, topeng tenangnya kembali terpasang.
Ia menyandarkan tubuh ke kursi dan memandang ke luar jendela, ke arah langit April yang perlahan kehilangan cahaya.
“Kau selalu memanggil ibumu dengan nama lengkapnya.”
Suaranya melembut.
Terlalu lelah untuk terdengar marah.
“Baiklah. Kalau kau memang ingin membuang baterai perekammu untuk membahasnya, mari kita mulai dari hari paling menyebalkan di bulan April dua puluh lima tahun yang lalu.”
Kaizen mengetukkan ujung jarinya ke atas meja sebagai isyarat.
Aku menekan tombol merah pada alat perekam.
Layar digital menyala.
Hitungan detiknya mulai berjalan.
Lampiran Arsip Kasus #01-AKode Audio: REC_001_KAIZEN
Narasumber: Kaizen Elion Ukiyo
Kaizen:
Hari itu hujan baru saja reda. Aspal jalanan masih basah dan dipenuhi genangan kecil. Ayah sedang terburu-buru menuju studio lama di ujung kompleks sambil membawa gitar karena sudah terlambat menghadiri rapat penting dengan agensi.
Lalu, dari pintu sebuah toko bunga kecil di sudut jalan, seorang gadis keluar dengan tergesa-gesa.
Dia membawa buket anyelir putih yang ukurannya terlalu besar untuk tubuhnya sendiri.
Saking besarnya buket itu, seluruh wajahnya tertutup.
Jelas dia yang salah karena berjalan tanpa melihat ke depan.
Dia langsung menabrak gitarku sampai bunga-bunganya berjatuhan ke aspal yang kotor.
Dan bukannya meminta maaf, dia malah marah-marah.
Luminara Saoirse Solace.
Dia perempuan paling keras kepala dan paling ceroboh yang pernah Ayah temui.
Wawancara sore itu berakhir dua jam kemudian.
Aku mematikan alat perekam setelah merasa mendapatkan cukup bahan untuk draf awal, lalu bergegas naik ke kamar lantai atas sebelum atmosfer rumah ini kembali membuatku sesak.
Kaizen tidak berusaha menghentikanku.
Ia hanya memandang punggungku yang menjauh dengan tatapan yang sulit kuartikan.
Malam datang perlahan.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit, aku masih terjaga di atas kasur yang terasa asing.
Akhirnya aku menyerah.
Aku turun ke lantai bawah dengan langkah pelan.
Tujuanku adalah gudang belakang.
Awalnya aku hanya berniat mencari lirik lagu lama, foto dokumentasi proyek musik, atau kliping koran yang mungkin bisa memperkaya lampiran tugas akhirku.
Namun yang kutemukan justru sesuatu yang sama sekali tidak kuharapkan.
Gudang itu berbau lembap dan debu.
Di sudut rak paling bawah, tersembunyi di balik kain flanel usang, jemariku menyentuh sebuah kotak kayu kecil berukir bunga.
Kotak itu tidak terkunci.
Di dalamnya tidak ada partitur.
Tidak ada dokumen.
Hanya belasan kaset pita tua yang tersusun rapi.
Pada setiap labelnya tertulis nama yang sama dengan tinta hitam yang mulai pudar.
Lumi’s Journal.
Jantungku berdetak lebih cepat.
Aku mengambil salah satu kaset bertuliskan:
April 2002.
Rasa penasaran mengalahkan akal sehat.
Kaset itu kumasukkan ke tape recorder tua yang tergeletak di meja gudang. Aku mengenakan headphone besar dan menekan tombol play.
Bunyi statis memenuhi telingaku selama beberapa detik.
Lalu sebuah suara perempuan terdengar.
Jernih.
Sedikit serak.
Namun terasa hidup.
Sangat hidup.
Lampiran Arsip Kasus#02-BKode Arsip: TAPE_A_APRIL2002
Narasumber: Luminara Saoirse Solace
Luminara:
Suara napas terengah-engah disusul bunyi bel pintu toko)
Catatan harian. Lima April dua ribu dua.
Hari ini aku sial sekali.
Ada seorang pemuda sinting yang berjalan mundur di trotoar depan tokoku sambil sibuk memamerkan permainan gitarnya kepada teman-teman satu band.
Aku sudah berteriak “Awas!” berkali-kali dari balik buket bunga, tapi dia sama sekali tidak mendengar.
Dia tetap menabrakku.
Semua pesanan anyelir putihku jatuh dan hancur di aspal berlumpur.
Dan tahu apa yang paling membuatku kesal?
Dia bahkan tidak meminta maaf.
Dia malah sibuk memeriksa apakah gitarnya lecet atau tidak.
Benar-benar manusia egois.
Temannya tadi sempat memanggil namanya.
Kaizen.
Oke, Kaizen.
Kalau sampai aku melihat wajah sok kerennya lagi di depan tokoku besok pagi, aku bersumpah akan menyiram kepalanya dengan air rendaman mawar berduri.
Lihat saja nanti.
(Suara tawa renyah terdengar sebelum rekaman berakhir.)
Tanganku gemetar.
Buku catatanku terjatuh ke lantai gudang.
Aku langsung melepaskan headphone dari telinga seolah suara itu baru saja membakar kulitku.
Suara itu.
Suara perempuan yang selama lima belas tahun terakhir berusaha kuhapus dari ingatan.
Ibuku.
Aku menatap dinding gudang yang dingin dengan napas memburu.
Pertanyaan demi pertanyaan berputar tanpa kendali di dalam kepala.
Mengapa versi cerita mereka berbeda begitu jauh?
Siapa yang berbohong?
Ayahku yang selama ini hidup bersama kenangan itu?
Atau suara dari masa lalu yang baru saja kudengar melalui pita kaset tua?
Namun ada satu pertanyaan lain yang jauh lebih mengganggu.
Jika Ibu benar-benar membakar dan membuang seluruh barang miliknya sebelum pergi meninggalkan kami seperti yang selalu Ayah katakan…
Lalu mengapa kaset-kaset ini masih ada?
Dan mengapa semuanya disimpan dengan begitu rapi?
Bab 2: Spektrum Rasa yang Keliru
Keesokan sorenya, atmosfer di meja makan masih sedingin kemarin.
Bedanya, kali ini aku duduk dengan kepala yang dipenuhi suara renyah Luminara dari kaset pita semalam. Setiap kali menatap Kaizen yang sedang sibuk memotong roti di hadapanku, tawa ibuku seolah kembali memantul di dinding kepalaku.
Aku meletakkan alat perekam digital di atas meja.
Lalu menekan tombol rekam tanpa meminta izin.
“Mari masuk ke tahun kedua hubungan kalian. Tahun dua ribu tiga,” ujarku, sengaja langsung menusuk ke inti pembicaraan. “Di biografimu, aku butuh titik balik emosional. Kapan tepatnya kau mulai sadar bahwa kau jatuh cinta pada perempuan… yang pada akhirnya meninggalkanmu?”
Kaizen menghentikan gerakan pisaunya.
Ia menatapku lama. Senyum getir yang nyaris tak terlihat muncul di sudut bibirnya.
“Kau selalu menggunakan kata ‘meninggalkan’, Raya,” bisiknya pelan.
Kemudian ia menyandarkan tubuh ke kursi roda. Tatapannya kembali mengarah ke jendela, seolah sedang memandang sesuatu yang jauh melampaui halaman rumah ini.
“Padahal di dunia ini, ada banyak jenis perpisahan yang tidak lahir dari keinginan untuk pergi.”
“Aku tidak butuh filosofi cinta, Ayah. Aku butuh jawaban.”
Kaizen mengembuskan napas panjang.
Akhirnya ia menyerah pada keras kepalaku yang, sayangnya, sangat mirip dengan milik ibuku.
“Ayah yang jatuh cinta lebih dulu,” jawabnya mantap.
Suaranya terdengar jauh lebih lembut dibanding beberapa menit sebelumnya.
“Malam itu studio Ayah kebanjiran akibat badai besar di bulan November. Semua draf lagu basah, listrik padam, dan Ayah hanya duduk sendirian di teras studio dengan perasaan gagal total.”
Ia berhenti sejenak.
“Lalu Luminara datang.”
“Dia menerobos hujan hanya untuk membawakanku secangkir teh chamomile hangat dan payung besar berwarna kuning. Di bawah guyuran hujan itu, saat ia mengomeli kebodohanku yang tidak sempat menyelamatkan partitur lagu, Ayah sadar…”
Kaizen tersenyum kecil.
“Ayah tidak bisa hidup tanpa perempuan galak itu.”
Aku mendengarkan dengan saksama.
Romantis.
Hangat.
Dan sangat mirip kisah cinta masa muda yang biasa muncul dalam film-film lama.
Namun malam harinya, ketika rumah kembali tenggelam dalam keheningan, aku sekali lagi mengurung diri di gudang belakang yang lembap dan pengap.
Kaset kedua yang bertuliskan “November 2003” kumasukkan ke dalam tape recorder tua.
Aku memasang headphone.
Lalu menekan tombol play.
Lampiran Arsip Kasus #02-AKode Arsip: TAPE_B_NOV2003
Narasumber: Luminara Saoirse Solace
Luminara:
Terdengar suara hujan deras menghantam atap seng, disusul gelegar petir samar di kejauhan.)
Catatan harian.
Empat November dua ribu tiga.
Malam ini badainya mengerikan sekali.
Aku baru saja hendak menutup toko ketika melihat siluet pria bodoh di teras studio seberang jalan.
Itu Kaizen.
Ia duduk memeluk gitarnya di tengah genangan banjir semata kaki, membiarkan dirinya basah kuyup seperti anak kucing yang tersesat.
Benar-benar pria dramatis yang merepotkan.
Karena aku tidak tega melihatnya mati konyol akibat hipotermia, aku terpaksa menerobos hujan membawa payung kuningku.
Aku bahkan harus merelakan persediaan teh chamomile terakhirku untuknya.
Tapi tahu apa yang paling menyedihkan?
Saat aku menyerahkan payung itu, ia menatapku dengan mata bulatnya yang basah, lalu berkata,
“Lumi, terima kasih sudah datang. Kurasa aku jatuh cinta padamu.”
Ya Tuhan.
Aku bersumpah dia adalah pria paling tidak tahu tempat di muka bumi.
Bisa-bisanya dia menyatakan cinta di tengah banjir dan petir yang menyambar ke mana-mana?
Tentu saja aku tertawa dan mengatainya gila.
Yang lebih parah, dia bahkan tidak sadar bahwa selama berbulan-bulan sebelumnya, akulah yang selalu menyelipkan setangkai anyelir putih di sela pagar studionya setiap pagi.
Ia bahkan tidak sadar bahwa aku sudah jatuh cinta lebih dulu sejak hari pertama ia menabrakku dengan gitarnya.
Dasar lelaki tidak peka.
———-
Jantungku terasa seperti dihantam palu tak kasatmata.
Aku terpaku di depan meja gudang yang dipenuhi debu. Potongan-potongan puzzle yang selama ini kukumpulkan mulai berhamburan di tanganku.
Kaizen bilang ia yang jatuh cinta lebih dulu pada malam hujan itu.
Namun Luminara merekam kenyataan yang berbeda.
Ia telah menyimpan perasaannya selama berbulan-bulan. Ia bahkan diam-diam menyelipkan anyelir putih di pagar studio Kaizen setiap pagi.
Lalu kenapa Ayah mengingat momen itu seolah dialah orang pertama yang membuka hati?
Apakah egonya sebagai seorang laki-laki menolak kenyataan bahwa ia didekati lebih dulu?
Atau…
Ada sesuatu yang belum kutemukan?
Tanganku bergerak tanpa arah, membongkar isi kotak kayu itu lebih dalam.
Di antara tumpukan kaset pita, jemariku menemukan selembar memo kecil yang terlipat rapi.
Kertasnya sudah menguning dan tampak rapuh dimakan usia.
Saat kubuka, ternyata itu adalah salinan pesan singkat dari tahun 2003 yang sengaja diketik ulang dan dicetak oleh Kaizen bertahun-tahun kemudian.
Lampiran Arsip Kasus #02-BKode Dokumen: SMS_ARCHIVE_2003
Disalin Oleh: Kaizen Elion Ukiyo (Dicetak pada 12 Februari 2015)
[Pesan Masuk — 05 November 2003 | 01.22 WIB]Pengirim: Lumi (0812-xxxx-883)
“Kaizen, jangan lupa minum obat penurun panas yang kubelikan tadi. Jangan mati dulu. Draf lagu yang kau tulis di teras banjir tadi bagus sekali. Aku ingin mendengarkan versi utuhnya besok pagi.”
[Pesan Terkirim — 05 November 2003 | 01.25 WIB]Penerima: Lumi (0812-xxxx-883)
“Obatnya sudah kuminum. Terima kasih, Lumi. Lagunya sudah selesai. Judulnya Bait yang Tak Terekam. Lagu itu tentangmu. Dan aku serius dengan ucapanku di bawah hujan tadi. Aku tidak sedang bercanda.”
[Pesan Masuk — 05 November 2003 | 01.28 WIB]Pengirim: Lumi (0812-xxxx-883)
“Jangan konyol. Aku ini seorang florist, Zen. Aku tahu kapan sebuah bunga mekar, dan aku tahu kapan sebuah lagu berbohong. Kita lihat saja seberapa lama kau bisa mempertahankan bait itu sebelum dunia merebutnya dari kita.”
Catatan Harian Penulis (Hiraya)Waktu Penulisan: 10 April 2026 | 01.10 WIB
Luminara menulis:
“Sebelum dunia
merembutnya dari kita.”
Kalimat itu terasa terlalu dingin untuk sepasang kekasih yang baru saja memulai hubungan.
Terlalu suram.
Terlalu penuh firasat buruk.
Namun ada satu detail lain yang membuat bulu kudukku meremang saat membaca lembar cetakan SMS itu.
Di bagian paling bawah kertas, terdapat coretan pulpen hitam yang ditambahkan bertahun-tahun setelah dokumen itu dicetak.
Tulisan tangannya tidak lagi serapi yang biasa kulihat.
Garis-garis hurufnya tampak gemetar.
Seolah ditulis oleh seseorang yang sedang memikul penyesalan terlalu berat untuk disimpan sendirian.
Tulisan itu berbunyi:
“Maafkan aku, Lumi. Dunia tidak merembutnya. Aku yang gagal menjaganya dari dunia.”
Aku menatap kalimat itu lama sekali.
Napas terasa tertahan di tenggorokan.
Gagal menjaga apa?
Lagu itu?
Atau…
Ibu?
Bab 3: Sisa Suara yang Menguning
Pagi itu, aku sengaja menolak sarapan bersama Kaizen.
Aku mengunci diri di kamar atas sambil menatap draf biografinya di layar laptop yang baru terisi dua bab.
Dua bab yang penuh lubang.
Dua bab yang dipenuhi kontradiksi.
Setiap kali memandang ke luar jendela, aku bisa melihat atap studio musik lama milik Kaizen yang berdiri di seberang jalan.
Studio itu telah lama ditutup.
Rantai karat menggantung pada pintunya sejak belasan tahun lalu—tepat setelah Luminara dikabarkan “pergi ke luar negeri”.
Kaizen selalu melarangku mendekati bangunan itu.
Alasannya sederhana.
Bangunannya sudah tua, rapuh, dan berbahaya.
Namun siang itu, saat ia tertidur setelah menjalani jadwal cuci darah yang melelahkan, aku mencuri kunci studio dari laci nakas di samping tempat tidurnya.
Tanganku gemetar ketika menyeberangi jalan.
Gembok tua itu terbuka dengan bunyi klik yang nyaring.
Saat pintu kayu ek didorong perlahan, aroma debu, kayu lapuk, dan kelembapan yang terperangkap selama bertahun-tahun langsung menyergap indra penciumanku.
Studio itu terasa seperti kapsul waktu.
Segalanya seolah berhenti pada satu titik di masa lalu.
Di tengah ruangan berdiri meja mikser audio besar yang telah lama mati. Sebuah stand mikrofon tampak miring di sudut ruangan. Sementara sofa kulit tua di dekat jendela telah robek di beberapa bagian.
Aku berjalan menuju meja kerja utama.
Di atasnya tergeletak sebuah kaleng biskuit tua yang dipenuhi bercak karat.
Saat kubuka, aku tidak menemukan kaset pita seperti yang kuduga.
Isinya adalah tumpukan surat fisik yang telah menguning dimakan usia.
Beberapa lembar cetakan surel kerja juga terselip di antaranya.
Jemariku berhenti pada satu surat.
Tulisan tangan di amplopnya terasa sangat familiar.
Aku mengenalinya.
Tulisan tangan yang sama seperti yang tertera pada label kaset-kaset di gudang.
Tulisan tangan Luminara.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Biasanya tulisannya rapi dan tegas.
Tulisan pada surat ini tampak goyah.
Beberapa huruf bahkan terlihat seperti ditulis dengan tangan yang kehabisan tenaga.
Seolah setiap kata dipaksa keluar dengan susah payah.
Aku membuka lipatan surat itu perlahan.
Lampiran Arsip Kasus #03-AKode Dokumen: LET_LUMI_2010
Kondisi Fisik: Kertas kempa menguning, terdapat bercak air yang telah mengering di sudut bawah.
Tanggal Surat: 14 Agustus 2010
Ditunjukan Kepada: Kaizen Elion Ukiyo
Luminara:
Zen, maaf ya.
Hari ini aku muntah lagi setelah terapi di rumah sakit.
Rasanya sakit sekali sampai aku kesulitan memegang gunting bunga di toko.
Dokter bilang obat-obat baru ini tidak banyak membantu, dan tubuhku mulai menolak makanan.
Tapi bukan itu yang membuatku sedih, Zen.
Yang membuatku sesak adalah setiap kali melihat Hiraya kecil tertidur di kamarnya.
Ia baru berusia empat tahun.
Ia belum mengerti kenapa ibunya tidak bisa lagi menggendongnya karena tubuhku terlalu lemah.
Tadi siang Hiraya bertanya kepadaku,
“ibu kenapa tiduran terus? Ibu bosan ya main sama Raya?”
Aku hanya bisa tersenyum.
Aku berbohong dan mengatakan bahwa aku sedang bermain peran menjadi putri tidur.
Zen…
Aku takut sekali.
Aku takut waktuku habis sebelum Hiraya sempat mengingat suaraku saat ia dewasa nanti.
Jangan beri tahu Hiraya tentang penyakit ini.
Aku mohon.
Biarkan ia mengingatku sebagai seorang ibu yang sehat.
Kalau hari itu tiba…
Katakan saja padanya bahwa aku sedang pergi jauh untuk mencari bunga-bunga terindah di dunia.
Biarkan ia membenciku karena mengira aku pergi.
Itu jauh lebih mudah daripada membiarkannya tumbuh bersama kenangan melihat ibunya mati perlahan di ranjang rumah sakit.
Aku mencintaimu, Kaizen.
Jaga bait lagu kita baik-baik.
Napas tertahan di tenggorokanku.
Air mata luruh tanpa bisa kubendung, menetes tepat di atas laptop yang sedang kugunakan untuk menyalin isi surat itu.
“Sakit…?”
Bisikanku terdengar pecah di tengah studio yang sunyi.
“Ibu tidak pergi?”
Otakku menolak mempercayainya.
Namun hatiku telah lebih dulu hancur berkeping-keping.
Selama lima belas tahun, aku memelihara kebencian untuk seorang perempuan yang kuanggap meninggalkan keluarganya sendiri.
Padahal kenyataannya…
Ia sedang sekarat.
Dan di tengah ketakutannya menghadapi kematian, ia masih berusaha melindungiku dari trauma yang tidak seharusnya ditanggung seorang anak kecil.
Tanganku gemetar saat membalik lembar berikutnya.
Di bawah surat Luminara, terselip sebuah cetakan surat elektronik dari perusahaan musik yang pernah menaungi Kaizen pada tahun yang sama.
Kertasnya sudah mulai kusam.
Namun isi pesannya masih terbaca jelas.
Lampiran Arsip Kasus #03-BKode dokumen: EMAIL_AGENCY_2010
Pengirim: internal-production@symphonymusic.co.id
Penerima: Kaizen.ukiyo@gmail.com
Tanggal: 20 September 2010 | 09.45 WIB
Perihal: Pembatalan Kontrak Album Terbuka & Sanksi Penalti
Yth. Saudara Kaizen Elion Ukiyo,
Melalui surat elektronik ini, pihak manajemen Symphony Music menyatakan kekecewaan atas keputusan sepihak Anda untuk mengundurkan diri dari seluruh proyek produksi musik tahun 2010–2011.
Kami memahami alasan personal yang Anda ajukan terkait kondisi kesehatan kritis istri Anda, Saudari Luminara.
Namun, pembatalan jadwal rekaman album utama serta penjualan hak cipta lagu Bait yang Tak Terekam secara terburu-buru demi mencairkan dana darurat medis telah menyebabkan kerugian yang signifikan bagi pihak investor.
Sesuai Pasal 7 dalam surat perjanjian kontrak, Anda diwajibkan membayar sanksi penalti sesuai ketentuan yang berlaku. Apabila kewajiban tersebut tidak dipenuhi, seluruh aset royalti dari karya-karya Anda sebelumnya akan dibekukan oleh label.
Kami memberikan waktu empat belas hari kerja untuk memberikan respons resmi atau kembali melanjutkan kewajiban profesional di studio.
Hormat kami,
Divisi Hukum & Manajemen Artis
Symphony Music
Catatan Harian Penulis (Hiraya)Waktu Penulisan: 11 April 2026 | 15.30 WIB
Ayah tidak pernah bangkrut karena investasi yang gagal.
Itu bohong.
Ia menghancurkan kariernya sendiri.
Ia menjual lagu paling berharga yang pernah ditulisnya—lagu yang diciptakan khusus untuk Ibu—demi membayar biaya rumah sakit tempat Ibu menjalani perawatan.
Aku membaca ulang email itu untuk ketiga kalinya.
Tetap saja rasanya sulit dipercaya.
Jika semua ini benar…
Kenapa Ayah masih berbohong saat wawancara kemarin?
Kenapa ia tetap bersikap seolah Ibu adalah perempuan keras kepala yang meninggalkannya begitu saja?
Dan yang lebih menyakitkan…
Mengapa ia membiarkan dirinya dibenci oleh putrinya sendiri selama bertahun-tahun hanya untuk menjaga kebohongan itu?
Aku menutup kaleng biskuit tua tersebut dengan tangan yang masih gemetar.
Debu beterbangan saat tutupnya kembali menutup rapat masa lalu yang selama ini kusebut kebenaran.
Tidak.
Aku tidak bisa berhenti di sini.
Aku membutuhkan seseorang yang mengetahui bagaimana akhir dari tahun dua ribu sepuluh itu.
Seseorang yang berada di sana saat semuanya runtuh.
Seseorang yang mungkin masih menyimpan bagian terakhir dari cerita ini.
Dan hanya ada satu nama yang terlintas di kepalaku.
Januar.
Teman satu band Ayah.
Orang yang sejak kecil kupanggil Paman Januar.
Bab 4: Saksi yang Tertinggal
Aku tidak tahu bagaimana caranya bisa berjalan pulang dari studio tua itu tanpa kehilangan kesadaran.
Sepanjang malam, aku mengurung diri di kamar dan menolak makan malam yang diantarkan Kaizen ke depan pintu.
Dari celah sempit di bawah pintu, aku sempat mendengar roda kursinya bergerak mondar-mandir di lorong.
Gelisah.
Ragu.
Seolah ia ingin mengetuk pintu kamarku, tetapi tidak pernah benar-benar memiliki keberanian untuk melakukannya.
Beberapa menit kemudian, suara roda itu menjauh.
Lalu rumah kembali tenggelam dalam keheningan.
Aku tidak bisa membenci Kaizen lagi.
Aku juga tidak bisa membenci Luminara.
Perasaan itu telah menghilang.
Yang tersisa hanyalah lubang besar di dadaku yang perlahan dipenuhi rasa bersalah.
Rasa bersalah yang begitu pekat hingga membuatku sulit bernapas.
Pukul sembilan pagi keesokan harinya, aku mengabaikan panggilan Kaizen dari ruang tengah.
Aku langsung pergi menuju sebuah kedai teh kecil di pusat kota.
Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya dengan jaket denim usang telah duduk menungguku.
Januar.
Mantan vokalis utama dalam band Kaizen.
Di foto-foto lama yang kusimpan, pria itu selalu tersenyum lebar sambil merangkul pundak Ayah di atas panggung.
Kini senyumnya telah memudar dimakan usia.
Namun sorot matanya masih sama.
Hangat.
Dan entah mengapa, penuh rasa iba saat memandangku.
“Kau sudah besar, Raya,” ujarnya sambil tersenyum tipis. “Terakhir kali Paman melihatmu, kau masih suka menangis di studio sambil menarik-narik ujung kaus Kaizen.”
Aku tidak membalas senyum itu.
Tanganku langsung meraih alat perekam digital dari dalam tas.
Kulekatkan benda itu di atas meja dengan jemari yang bergetar samar.
“Paman Januar…”
Suaraku tercekat di tenggorokan.
Aku berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.
“Tolong katakan padaku.”
Aku menarik napas panjang.
“Di mana Ibu?”
Keheningan sesaat menyelimuti meja kami.
“Di mana Luminara?”
Lampiran Arsip Kasus #04-AKode Audio: REC_002_JANUAR
Narasumber: Januar (Mantan Rekan Band Kaizen)
Pewawancara: Hiraya Analeia Lael
Lokasi: Kedai Teh Blue Wave, Jakarta Pusat
Januar:
(Terdengar helaan napas panjang yang berat, disusul bunyi cangkir teh yang bergesekan pelan dengan meja.)
Jadi…
Kau akhirnya tahu, Raya?
Kaizen…
Dia akhirnya menceritakannya padamu?
Hiraya:
Ayah tidak menceritakan apa pun.
Ia masih terus berbohong padaku dan mengatakan bahwa Ibu pergi meninggalkan kami.
Aku menemukan surat-surat lama milik Ibu di studio seberang jalan.
Paman…
Tolong jangan ikut berbohong.
Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada akhir tahun dua ribu sepuluh.
Januar:
(Hening cukup lama.)
(Terdengar suara embusan napas yang tidak stabil.)
Kaizen itu…
Manusia paling bodoh yang pernah Paman kenal, Raya.
Ia terlalu mencintai ibumu.
Terlalu mencintainya sampai rela menghancurkan dirinya sendiri demi menepati janji terakhir Luminara.
Tahun dua ribu sepuluh adalah neraka bagi kami semua.
Terutama bagi Kaizen.
Saat band kami sedang berada di puncak karier dan agensi menawarkan kontrak album terbesar sepanjang hidup kami…
Luminara jatuh sakit.
Awalnya tidak ada yang menyangka penyakitnya separah itu.
Ia sering mengeluh nyeri di perut bagian bawah.
Kadang mengalami perdarahan yang dianggap hanya gangguan kesehatan biasa akibat kelelahan bekerja.
Lumi juga keras kepala.
Ia selalu berkata dirinya baik-baik saja.
Ia lebih memilih menghabiskan uang mereka untuk kebutuhan rumah dan masa depanmu daripada memeriksakan diri secara menyeluruh ke rumah sakit.
Ketika akhirnya Kaizen memaksanya menjalani pemeriksaan lengkap…
Semuanya sudah terlambat.
Kanker rahimnya sudah memasuki stadium akhir.
Penyakit itu telah menyebar terlalu jauh.
Dokter mengatakan bahwa pengobatan hanya bisa memperlambat perkembangannya.
Bukan menyembuhkannya.
Kaizen langsung kehilangan kewarasannya.
Ia mengabaikan seluruh jadwal latihan.
Ia tidak peduli lagi pada musik.
Baginya, satu-satunya melodi yang harus ia selamatkan saat itu adalah detak jantung ibumu.
Saat tabungan mereka habis untuk membayar kemoterapi dan berbagai tindakan medis, agensi menawarkan bantuan dengan syarat yang kejam.
Mereka hanya bersedia mencairkan dana jika Kaizen menyerahkan seluruh hak cipta lagu Bait yang Tak Terekam.
Lagu terbaik yang pernah ia tulis.
Lagu yang ia ciptakan khusus untuk Lumi.
Hiraya:
(Suara tangisan Hiraya mulai terdengar samar, tertahan.)
Lalu…
Ayah menyerahkannya?
Januar:
Ia menyerahkannya tanpa berpikir dua kali, Raya.
Kaizen menandatangani surat pemutusan kontrak pada hari yang sama.
Ia menjual mobil.
Menjual rumah pertama yang mereka beli bersama.
Bahkan melepaskan studio yang dibangunnya dari nol.
Semua demi membayar biaya pengobatan ibumu.
Semua demi memperpanjang hidupnya.
Walaupun hanya untuk beberapa bulan.
(Terdengar helaan napas panjang.)
Paman masih ingat malam sebelum Luminara pergi.
Ia memanggil Kaizen dan Paman ke kamar rumah sakit.
Saat itu kau sedang tertidur di sofa ruang rawat sambil memeluk boneka kelincimu.
Luminara menangis.
Ia memelukmu lama sekali seolah tidak ingin melepaskanmu.
Lalu ia menatap Kaizen dan berkata,
“Jangan biarkan Raya tahu aku mati dengan cara menyedihkan seperti ini.”
“Biarkan ia mengingatku sebagai ibu yang pergi jauh.”
“Biarkan ia marah padaku.”
“Biarkan ia membenciku jika itu membuatnya tidak takut pada kematian.”
Suara Luminara gemetar saat mengatakan itu.
Namun Kaizen tetap mengangguk.
Karena sejak awal, ia tidak pernah pandai menolak permintaan perempuan yang dicintainya.
Dan kau tahu apa yang dilakukan ayahmu setelah itu?
Ia menepati janjinya.
Ia menguburkan Luminara secara sederhana.
Hanya dihadiri keluarga dekat dan beberapa orang yang benar-benar mengetahui keadaan sebenarnya.
Lalu ia pulang ke rumah.
Membawa setumpuk dokumen yang sengaja disiapkan untuk mendukung kebohongan itu.
Ia menciptakan cerita bahwa Luminara pergi ke luar negeri.
Bahwa suatu hari nanti ia akan kembali.
Ia membiarkan putrinya tumbuh dengan kemarahan.
Membiarkan dirinya menjadi sasaran kebencian setiap hari.
Semua demi menjaga keinginan terakhir perempuan yang ia cintai.
————
Januar merogoh dompetnya.
Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah foto polaroid tua yang warnanya mulai memudar dimakan usia.
Dengan gerakan perlahan, ia menggesernya ke arahku.
“Ini foto terakhir yang Paman ambil di studio,” ujarnya lirih.
“Beberapa minggu sebelum ibumu menjalani perawatan terakhir di rumah sakit.”
Jemarinya berhenti sejenak di atas foto itu.
“Kaizen menitipkan foto ini pada Paman.”
Aku mengangkat pandangan.
“Kenapa?”
Karena dia takut.
Kalau foto ini disimpan di rumah, kau bisa menemukannya kapan saja.
Dan semua kebohongan yang susah payah ia pertahankan akan runtuh.”
Lampiran Arsip Kasus #04-BKode Arsip: IMG_POLAROID_2010
Deskripsi Visual:
Foto berlatar studio musik yang remang.
Kaizen muda sedang duduk di lantai sambil memangku gitar akustik.
Ia tertawa lepas ke arah kamera.
Di sampingnya, Luminara duduk di sofa dengan senyum hangat dan setangkai anyelir putih terselip di telinganya.
Di antara mereka, seorang balita perempuan tertidur pulas berbantalkan paha Kaizen.
Catatan di Belakang Foto:
(Ditulis tangan oleh Januar)
“Studio Kenangan, Juli 2010.
Keluarga kecil Ukiyo.
Kaizen baru saja kalah taruhan karena salah menebak chord lagu ciptaannya sendiri.
Lumi menertawakannya sampai menangis.
Hiraya kecil tetap tidur nyenyak seolah dunia baik-baik saja.
Tetaplah seperti ini selamanya, ya, kalian bertiga.
— Januar J.”
————
Catatan Penulis Harian (Hiraya)Waktu Penulisan: 12 April 2026 | 13.00 WIB
Tanganku berguncang hebat saat membalik foto polaroid itu.
Aku melihat senyum Ayah.
Senyum yang tidak pernah lagi kulihat sejak usia empat tahun.
Senyum yang direnggut oleh kematian Ibu.
Dan oleh kebencian yang selama ini kutanam sendiri di rumah itu.
Paman Januar memberitahuku bahwa Ibu dimakamkan di sebuah pemakaman kecil di pinggiran kota.
Makam sederhana.
Tanpa nama besar.
Hanya sebuah nisan kayu bertuliskan inisial:
L.S.S.
Selama bertahun-tahun, biaya perawatannya dibayar diam-diam oleh Ayah melalui rekening yang tidak pernah diketahui siapa pun.
Aku pulang ke rumah dengan seluruh pertahananku yang hancur.
Saat pintu rumah terbuka, aroma teh chamomile yang mulai mendingin menyambutku dari ruang tengah.
Dan di sana…
Di dekat jendela yang diterpa cahaya sore.
Kaizen duduk membelakangiku.
Tangannya yang gemetar memegang beberapa lembar kertas tua.
Di sampingnya, sebuah tape recorder kecil terus berputar pelan.
Ia sedang mendengarkan rekaman wawancaraku dengannya beberapa hari lalu.
Aku melangkah mendekat.
Kali ini, aku tidak menarik kursi dengan kasar.
Aku tidak membawa alat perekam.
Aku tidak datang sebagai pewawancara.
Aku tidak datang sebagai seseorang yang mencari kebenaran.
Aku datang sebagai seorang anak.
Perlahan, aku berlutut di samping kursi rodanya.
Lalu memeluk lututnya yang kaku.
Dan menangis sejadi-jadinya.
Untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun, aku tidak lagi menangisi ibu yang kukira meninggalkanku.
Aku menangisi ayah yang selama ini kutinggalkan sendirian.
Bab 5: Dialog di Ambang Batas
Lantai kayu ruang tengah terasa dingin di bawah lututku.
Aku masih berlutut di sana, memeluk kaki Kaizen yang kaku dengan bahu yang terus berguncang.
Air mataku membasahi celana kainnya yang usang.
Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, aku tidak merasakan amarah saat menyentuh lelaki itu.
Yang tersisa hanyalah rasa bersalah yang begitu pekat hingga membuat dadaku sesak.
Kaizen tidak bergerak selama beberapa menit.
Ia tampak terpaku.
Jari-jarinya yang kurus dan sedikit gemetar perlahan turun menyentuh puncak kepalaku.
Ragu.
Seolah ia takut gerakan sekecil apa pun akan menghancurkan momen yang selama ini hanya berani ia bayangkan.
Lalu, perlahan, ia mengusap rambutku.
Lembut.
Seperti seorang ayah yang telah terlalu lama merindukan putrinya.
“Raya…”
Suaranya pecah.
Parau.
Jauh lebih rapuh daripada yang pernah kudengar sebelumnya.
“Kenapa menangis, Nak?”
Aku mendongak.
Pandangan kami bertemu.
Mataku buram oleh air mata.
Dengan tangan yang masih gemetar, aku merogoh saku jaket dan mengeluarkan foto polaroid yang diberikan Paman Januar.
Foto itu kuletakkan di atas pangkuan Kaizen.
“Kenapa, Ayah?” bisikku lirih.
Suaraku serak.
“Kenapa Ayah membiarkan aku membencimu?”
Aku menarik napas yang terasa menyakitkan.
“Kenapa Ayah membiarkan aku mengutuk Ibu setiap hari sebagai perempuan yang egois?”
Air mataku kembali jatuh.
“Padahal Ibu menderita sendirian di rumah sakit.”
Aku menggigit bibirku kuat-kuat.
“Kenapa Ayah tidak pernah mengatakan kalau Ibu sudah meninggal?”
Mendengar pertanyaan terakhir itu, tubuh Kaizen menegang.
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
Napasnya tercekat.
Tatapannya jatuh pada foto polaroid di pangkuannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku pulang ke rumah ini, aku melihat topeng ketenangan yang dikenakannya selama bertahun-tahun runtuh di depan mataku.
“Januar…”
Suaranya bergetar.
“Januar memberitahumu?”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya menangis.
Kaizen mengangkat kedua tangannya ke wajah.
Bahu tuanya bergetar.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku melihat ayahku menangis.
Tangisan yang selama ini disembunyikannya di balik senyum tipis, cangkir teh yang selalu mendingin, dan rumah yang terus dipenuhi kenangan.
“Maafkan Ayah, Raya…”
Isaknya terdengar tertahan.
“Ayah hanya ingin menepati janji pada ibumu.”
Ia menundukkan kepala.
“Ayah tidak ingin kau tumbuh dengan ketakutan yang sama.”
“Ketakutan bahwa dunia bisa mengambil orang yang paling kau cintai begitu cepat.”
Malam itu, setelah tangis kami perlahan mereda, Kaizen mengajakku masuk ke kamarnya.
Ia membuka laci paling bawah lemari pakaian yang selama ini selalu terkunci.
Dari sana, ia mengeluarkan sebuah buku harian bersampul kulit hitam yang sudut-sudutnya telah aus dimakan waktu.
Tangannya gemetar saat menyerahkannya kepadaku.
“Ini buku harian Ayah.”
Suaranya masih serak.
“Tahun pertama setelah ibumu pergi.”
Aku menerima buku itu perlahan.
Sampulnya terasa dingin di telapak tanganku.
“Bacalah.”
Kaizen menatapku lama.
Seolah sedang menyerahkan bagian paling rapuh dari dirinya.
“Agar kau tahu…”
Ia tersenyum pahit.
“…betapa pengecutnya ayahmu ini saat harus menjawab pertanyaanmu ketika kau masih kecil.”
————
Lampiran Arsip Kasus #05-AKode Dokumen: DIARY_KAIZEN_2011
Tanggal Catatan: 03 Mei 2011
Penulis: Kaizen Elion Ukiyo
Hari ini Hiraya genap berusia lima tahun.
Tadi pagi, ia mengenakan gaun merah muda hadiah terakhir dari Lumi sebelum masuk ruang ICU tahun lalu.
Ia berdiri di depan pintu rumah sambil memegang setangkai anyelir yang mulai layu dari pot depan.
Lalu ia menatapku dengan mata bulatnya yang berair dan bertanya,
“Ayah, Ibu kok belum pulang dari luar negeri?”
“Raya kangen.”
“Ibu sudah tidak sayang Raya lagi, ya?”
Tuhan…
Rasanya seperti ada pisau yang menusuk jantungku berulang kali.
Aku harus berpegangan pada gagang pintu agar tidak jatuh berlutut di depan putriku sendiri.
Aku memaksakan senyum.
Lalu berlutut di hadapannya.
Aku mengusap air matanya dan berbohong sekali lagi.
Kataku,
“Ibu sedang sibuk merangkai bunga di tempat yang sangat indah, Raya.”
“Ibu pergi karena ingin mencari banyak uang untuk Raya.”
Setelah mendengar itu, wajah Hiraya mendadak berubah.
Mata bulatnya yang tadi dipenuhi harap perlahan mengeras.
Ia menjatuhkan bunga anyelir yang digenggamnya ke lantai.
Lalu berteriak,
“Aku benci Ibu!”
“Ibu jahat!”
“Ibu lebih memilih uang daripada Raya!”
Setelah itu ia berlari ke kamarnya dan mengunci pintu.
Meninggalkanku berdiri sendiri di ruang tamu.
Malam harinya, aku menangis sendirian di dapur.
Di depanku masih ada beberapa botol obat milik Lumi yang belum sanggup kubuang.
Aku tahu.
Hari itu aku resmi menanam kebencian di hati anakku sendiri.
Namun tidak apa-apa.
Biarlah Hiraya membenci Lumi karena mengira ibunya egois.
Biarlah ia menganggap ibunya memilih pergi.
Daripada ia harus tumbuh dengan kenyataan bahwa ibunya telah berbaring di dalam tanah dan tidak akan pernah kembali memeluknya.
Dan jika suatu hari kebencian itu berbalik kepadaku…
Aku akan menerimanya.
Aku rela.
Asalkan dunia kecil milik Hiraya tetap utuh lebih lama.
————
Air mataku kembali menetes di atas lembaran buku harian itu.
Setiap goresan tinta di halaman-halamannya terasa dipenuhi keputusasaan yang selama ini tidak pernah kulihat.
Kaizen sengaja mengorbankan dirinya.
Ia membiarkan dirinya dibenci.
Membiarkan dirinya dianggap sebagai ayah yang lemah dan penuh kebohongan.
Semua demi melindungiku dari kenyataan yang terlalu kejam untuk seorang anak kecil.
Namun saat menutup halaman terakhir buku harian itu, aku menemukan sesuatu.
Di bagian sampul belakang terdapat kantong plastik transparan yang diselipkan dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat sebuah kartu memori kamera digital lama.
Aku mengeluarkannya perlahan.
Lalu memasangnya ke laptop.
Hanya ada satu berkas di dalamnya.
Satu file audio.
Satu rekaman yang tampaknya sengaja disembunyikan selama bertahun-tahun.
————
Lampiran Arsip Kasus #05-BKode Arsip: AUDIO_PRIVATE_KAIZEN
Tanggal Perekaman: 12 Desember 2011 | 23.30 WIB
Lokasi: Studio Musik Lama
(Direkam beberapa bulan sebelum studio ditutup permanen.)
————
(Terdengar gema langkah kaki di ruangan kosong.)
(Disusul petikan senar gitar yang fals dan tidak lagi stem.)
(Suara Kaizen terdengar parau, lelah, dan nyaris kehilangan tenaga.)
Kaizen:
(Menghela napas panjang.)
Lumi…
Studio kita kosong sekarang.
Semua alat sudah diambil.
Manajemen juga sudah membekukan seluruh royalti yang tersisa.
Kontraknya resmi berakhir minggu lalu.
Kemarin aku menjual hak cipta penuh lagu Bait yang Tak Terekam.
Lagu yang kutulis untukmu.
Sekarang lagu itu dinyanyikan orang lain.
Bahkan namaku tidak lagi tercantum sebagai penciptanya.
Maafkan aku, Lumi.
Aku gagal menjaga bait yang pernah kita bangun bersama.
(Terdengar suara napas bergetar.)
Tapi uangnya cukup.
Setidaknya cukup.
Cukup untuk melunasi seluruh biaya rumah sakitmu.
Cukup untuk memastikan Hiraya bisa sekolah.
Cukup untuk memberinya masa depan yang lebih baik.
Hiraya tumbuh menjadi anak yang pintar.
Kau pasti akan bangga melihatnya.
Tapi…
Ia semakin membencimu.
Setiap hari ia bertanya kenapa ibunya tidak pernah menelepon.
Kenapa ibunya tidak pernah pulang.
Dan setiap hari pula aku harus menciptakan kebohongan baru.
(Hening beberapa saat.)
Lumi…
Aku lelah.
Kadang aku sangat lelah berpura-pura kuat di depannya.
Aku ingin sekali mengatakan yang sebenarnya.
Aku ingin memberitahunya bahwa ibunya adalah perempuan paling berani yang pernah kukenal.
Bahwa ibunya mengorbankan napas terakhirnya demi memastikan masa depan anaknya tetap aman.
Bahwa ibunya mencintainya lebih dari apa pun.
Tapi aku sudah berjanji padamu.
Di malam terakhir itu.
Dan aku akan memegang janji itu sampai akhir.
Walaupun taruhannya…
Adalah kenyataan bahwa anak kita mungkin tidak akan pernah memeluk ayahnya lagi.
(Suara tangisan Kaizen akhirnya pecah di tengah studio yang kosong.)
(Beberapa detik kemudian terdengar bunyi klik.)
(Rekaman berakhir.)
Catatan Harian Penulis (Hiraya)Waktu Penulisan: 13 April 2026 | 02.00 WIB
Lagu Bait yang Tak Terekam.
Lagu yang dulu sering kudengar diputar di radio saat remaja.
Lagu yang membuat seorang penyanyi baru melejit dan dikenal di seluruh negeri.
Selama ini aku mengira lagu itu hanyalah salah satu lagu populer yang kebetulan menemaniku tumbuh dewasa.
Aku tidak pernah tahu bahwa lagu itu lahir dari kisah cinta kedua orang tuaku.
Aku juga tidak pernah tahu bahwa Ayah menjualnya demi membayar pengobatan Ibu dan memastikan masa depanku tetap terjamin.
Ternyata selama ini aku tumbuh besar di atas pengorbanan yang bahkan tidak pernah kucurigai keberadaannya.
Aku menutup laptop perlahan.
Suara klik pelan dari layarnya yang tertutup menjadi satu-satunya bunyi di kamar yang telah larut dalam keheningan.
Pandanganku beralih ke arah tempat tidur.
Kaizen telah tertidur.
Napasnya terdengar pelan dan teratur setelah malam yang menguras begitu banyak air mata.
Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, wajahnya tampak lebih tenang daripada yang pernah kulihat selama aku berada di rumah ini.
Seolah sebagian dari beban yang dipikulnya selama lima belas tahun akhirnya mulai terangkat.
Aku menatapnya cukup lama.
Lelaki yang selama ini kusalahkan.
Lelaki yang diam-diam kehilangan segalanya.
Kariernya.
Mimpinya.
Perempuan yang dicintainya.
Bahkan kasih sayang putrinya sendiri.
Dan tetap memilih bertahan.
Perlahan aku menunduk melihat tumpukan arsip yang berserakan di atas meja.
Kaset-kaset tua milik Ibu.
Surat-surat yang menguning.
Foto polaroid yang warnanya mulai memudar.
Buku harian Ayah.
Serta rekaman-rekaman suara yang selama ini terkubur dalam diam.
Saat pertama kali pulang ke rumah ini, aku hanya ingin menyelesaikan tugas akhir kuliah.
Aku datang sebagai pewawancara.
Sebagai penulis biografi.
Sebagai seseorang yang mencari data.
Namun sekarang semuanya berubah.
Biografi ini tidak boleh berakhir sebagai tugas kuliah biasa.
Ini bukan lagi tentang kisah seorang produser musik yang pernah sukses.
Ini adalah kisah tentang cinta yang disembunyikan.
Tentang kehilangan yang dipendam.
Tentang dua orang yang saling menjaga hingga akhir, meski dunia hanya melihat kebohongan mereka.
Ini adalah arsip penebusan.
Aku akan menuliskan setiap bait yang sengaja Ayah sembunyikan dari dunia.
Aku akan merekam kembali suara Ibu yang selama ini hilang dari ingatanku.
Aku akan memastikan kisah mereka tidak ikut terkubur bersama waktu.
Namun sebelum semua itu…
Masih ada satu tempat yang harus kudatangi.
Satu tempat yang selama lima belas tahun tidak pernah kuketahui keberadaannya.
Besok pagi.
Aku akan pergi ke sana bersama Ayah.
Ke sebuah pemakaman kecil di pinggiran kota.
Ke tempat seorang perempuan bernama Luminara Saoirse Solace beristirahat.
Ke tempat sebuah nisan kayu sederhana berdiri dalam sunyi.
Dan di atasnya hanya tertulis tiga huruf yang selama ini menghantuiku.
L.S.S.